Kata Maaf Buat Seorang Adik, Juga Sahabat

Dia, 
Seorang yang ku anggap adik dan juga sahabat,
Dia,
Ketawanya kini masih kuingat.

Entah kenapa? Hati ini mulai merasa pilu dan menyesal akan cepatnya waktu berlalu,
tapi bukan waktu yang salah, melainkan diri ini yang masih saja kaku. 

Dari malam tadi, ada rasa bersalah yang sangat mendalam dalam diri ini. Degup jantung berdetak kencang setelah mendengarkan kata “Akhirnya kalian gak ada yang ngucapin juga,…” keluar dari mulutnya. Ya, ucapan itu akhirnya keluar juga. Aku sadar, disebalik mukanya yang ceria, ada rasa sedih dan kecewa kepada kami semua. Bagaimana tidak, dihari ulang tahunnya yang jatuh tepat tanggal 9 April lalu, tidak ada satupun diantara kami yang menyadarinya. Lidah ini kelu untuk berkata apa-apa, hanya rasa bersalah dan malu terukir dimukaku.

Aku sadar,
hari itu sangat penting buat dia, dan tanpa sadar dia menguji kami semua akan kebersamaan yang selalu kami teriakan. Ternyata “hampa”, nilai kebersamaan yang kami tuntut-tuntut selama ini sepertinya tidak lebih dari omongan belaka.
Lalu aku, kemana aja selama ini?
Jujur, aku baru menyadari akan hari ulang tahun dan perasaan yang dipendamnya selama ini pada malam tadi. Bukan malam seperti biasanya, melainkan malam perpisahan. Malam yang membuat diriku mengerti pentingnya “persahabatan” dan “kebersamaan”.

Masih ingatkah, dulu..?

Aku memang seorang yang usil dan suka menganggu. Ekspresi galak dan marah selalu bergantian kuperlihatkan. Tapi apakah dia sadar? Sifatku itulah yang membuat aku mengenali dirinya. Dulu, pertama kali aku mengganggunya adalah melalui status FBnya yang sedikit galau. Aku lupa harinya, namun yang kuingat adalah dia sepertinya mencurahkan sesuatu. Dari situlah aku mulai mengganggu dan sifat usil itu mulai keluar. Dari situ juga, aku mulai menasehatinya untuk tetap bersemangat.

Mulai dari saat itu, kami mulai saling menyapa di asrama. Satu persatu candaan ringan mulai keluar dari mulut ini. Namun tetap saja, aku masih sering berekspresi galak dan marah. Ya, kadang aku memang bersikap keras. Aku tahu benar, dia dan teman-temanku yang lain tidak suka akan hal itu.

Tak terasa, waktu terus berputar. Dengan berbagai aktivitas, aku mulai menyendiri dan sekali lagi, jauh dari lain. Ya, aku merasa jauh. Jauh dari kalian semua, terutama dia. Dia yang aku anggap sebagai adik dan sahabat. Sedikit sekali waktu yang kusisakan untuk bersama kalian semua, waktu untuk ketawa maupun hanya sekedar candaan ringan.

Sejak beberapa bulan yang lalu, aku masih sering bertemu dan bertegur sapa dengannya, namun semuanya hanyalah formalitas belaka. Dia bertugas mengumpulkan dana bulanan dari kami semua yang ada di asrama. Dia seorang yang amanah, ya itulah karakternya. Membuat kami senang akan kehadirannya dan percaya akan amanah-amanah yang diembannya.

Kini?
Semuanya sudah berbeda. Hanya kenangan demi kenangan yang kuingat. Meski dia tidak jauh, toh kami masih satu kampus, tapi jujur, ada sesuatu yang hilang dalam keluarga ini. Sesuatu yang mungkin sulit untuk mendapatkannya kembali. Walaupun dia sering diam, tapi menurutku lebih baik diam daripada tidak ada sama sekali.

Rasa sedih dan air mata ini sepertinya ingin terus mengalir ketika kuingat apa yang terjadi pada malam tadi. Pelukan hangat dari seorang adik dan juga sahabat. Kurasa betapa hangatnya hubungan silaturahim antara kami sesama muslim. Ada rasa takut yang muncul, rasa takut untuk melepas semua ini. Dalam hati aku berpikir, “Kenapa ini harus terjadi?”. Aku coba meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang diberikan Allah SWT kepada kami semua. Kami harus memilih jalan yang berbeda untuk mencapai kesuksesan masing-masing. Ya, aku yakin pasti ada hikmah dibalik semua ini.

Jalan ini bisa saja berbeda, tapi semangat kita untuk menjadi pemimpin harus tetap sama. Dalam hal ini, sekali lagi aku tahu dia kecewa. Kecewa karena tidak berada di yayasan dan asrama ini lagi. Padahal, dia sudah mempersiapkan diri untuk mencetak berbagai prestasi dan menjadi yang terbaik dari kami semua. Namun, terlepas dari semua itu, aku yakin sekali akan sesuatu hal. Aku yakin bahwa dia bisa menjadi lebih baik daripada kami semua yang ada disini. Menjadi lebih prestatif dan kontributif untuk semua. Yakinilah hal ini. Dia bisa mewujudkannya.

Terakhir.

Dari semua yang terjadi pada malam tadi. Banyak sekali hal kupelajari.
Dia telah mengajariku akan pentingnya sebuah persahabatan, pentingnya keluarga. Sebuah keluarga yang selama ini tidak terlalu aku perhatikan.

Maaf, atas sikapku selama ini.
Maaf, atas kesombongan dan keegoisan yang selalu kuperlihatkan.
Tapi yakinlah, tidak ada maksud buruk dalam hatiku.

Selamat Ulang Tahun, 
Semoga sisa umurmu ini menjadi berkah, dan
Semoga ukhuwah ini tetap terjaga.

 

Riverside dorm, 16 April 2013

One thought on “Kata Maaf Buat Seorang Adik, Juga Sahabat

  1. hehe aamiin…
    tanpa kau minta maaf pun, I have forgiven you my brother…
    I do asking sorry for all my fault…
    Still remember when the first time coming to dorm,
    and I fell like “galau” there (in my fb status),
    so you are the dorm mate who often gives me spirit….
    big thanks, big hug, big nice smile🙂
    Keep hamasah and cheerful🙂
    Barokalloh for us…

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s